Sebuah pasangan muda yang sedang berbulan madu, karena soal yang sepele, bertengkar dan tidak mau berbicara satu dengan yang lain. Setiap kali dilakukan usaha untuk berdamai maka usaha ini kandas disebabkan komunikasi yang selalu menjurus kepada emosi yang sedang peka. Diam-diam kedua orang muda datang kepada orang tua, satu-satunya tamu yang lain di hotel tempat mereka berbulan madu dan mengadukan halnya. Orang tua itu, yang kebetulan adalah dosen Filsafat Ilmu, membuka buku indeks diktat yang dikarangnya dan berfatwa, "Bicaralah dengan bahasa matematika!"
Syahdan, ketika malam pun tiba dan sang rembulan menampakkan rona, suami muda itu mulai membuka ofensif bulan purnama. Dengan mata yang menatap tajam-tajam mata hitam istrinya, mata itu mengatakan segalanya, dia mengacungkan telunjuknya yang membentuk angka satu. Sang istri diam sejenak, terperangah dan terpana, perlahan-lahan menjawab dengan mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya. Kini sang suami, melihat angka satunya dijawab dengan dua, terbungkam seribu bahasa. Mukanya mulai tampak memerah, matanya makin bertambah nyalang, kelihatan dia ragu-ragu. Namun perlahan-lahan diangkatnya tangan kanannya yang membentuk angka tiga dengan telunjuk, jari tengah, dan jari manisnya. Sang istri berteriak, lari dan menyusup ke pelukannya, kasih sayang telah kembali ke sarangnya.
Keesokan harinya sang istri datang pada orang tua yang bijak itu untuk mengucapkan terima kasih. Biasanya, begitu dia mulai bicara, sekiranya kami ingin berdamai maka kata-kata pertama selalu diartikan salah, yang menyebabkan kami kembali bertengkar. Kemarin dia tidak berkata apa-apa, sekedar menatap saya tajam-tajam dan berkata, "Dikaulah satu-satunya wanita yang kucintai." Hati saya tersentuh dan trenyuh, naluri kewanitaan saya luluh, jawab saya, "Kaupun satu-satunya yang kucintai, kita berdua adalah sepasang gunting, yang kalau sebelah tidak ada artinya." Eh, mendengar jawaban saya itu, dia menjadi binal, muka saya merah mendengarnya, "Marilah kita bikin belahan ketiga."
Sore harinya sang suami datang, membusungkan dada dan berseri-seri, menjabat tangan profesor itu dan berkata, "Matematika memang bahasa yang eksak, cermat, dan terbebas dari emosi. Sejak hari ini saya akan secara sungguh-sungguh mempelajari filsafat matematika." Dia pun lalu menceritakan halnya, bagaimana perselisihan dengan istrinya diselesaikan dengan sempurna, berkat kemujaraban matematika. "Karena dia tidak mau mengerti saya, karena setiap kata-kata saya selalu disalahartikan olehnya, maka langsung saja saya beri ultimatum: satu"
"Lalu bagaimana jawabnya?" tanya profesor itu.
"Dia memang perempuan keras kepala. Dia tidak takut atau pura-pura tidak takut terhadap ultimatum saya, malahan menantang : Dua!"
"Hah?" desis profesor itu sambil membuka kacamatanya.
"Ya, dua. Dia menantang saya dengan dua. Artinya melakukan kontra ofensif terhadap ultimatum saya. Saya jadi serba salah. Saya menjadi serba ragu. Bagaimana kalau ultimatum-ultimatuman ini berakhir tragis? Tetapi, kelelakian saya tersinggung dengan tingkahnya itu, serta mungkin saja dia pura-pura berani, dalam hatinya siapa tahu. Benar juga, ketika ultimatum saya habis, bersama kesabaran dan harapan saya : Tiga! Dia pun menyerah dan memeluk saya. Eureka! Semoga Tuhan memberkati matematika!"
Cerita di atas adalah penggalan dalam buku Filsafat Ilmu : Sebuah Pengantar Populer (Jujun S.Suriasumantri) dalam bab berjudul "Matematika". Ada banyak sebab mengapa aku menyukai buku ini, bahkan aku sudah mulai membacanya sejak masih duduk di SMU kelas 1. Akhirnya pada tingkat tiga universitas, karena buku ini juga, aku memilih untuk mengambil mata kuliah "Filsafat Ilmu" dari Sosio Teknologi, saat teman-temanku memilih mata kuliah favorit lain yang lebih banyak peminatnya. Aku masih ingat jelas, setiap hari Kamis pukul 13 siang bolong, di GKU Lama lantai 3. Phew! Haus, kaki pegal naik tangga 3 lantai, ditambah kepala pusing akibat dehidrasi. Tp ga satu hari pun aku bolos. Ga ada satu tugas pun yang ga kukerjakan. Presentasi timku yang mengambil topik "Epistemologi dan Aksiologi Keilmuan" mendapat nilai gemilang. Aku paham betul semua pemikiran, hipotesa, dan aksioma Thomas Aquinas, Auguste Comte, Immanuel Kant, Bertrand Russel, Ludwig Wittgenstein, sampai ketidakpastian Schrodinger, semuanya semuanya semuanya! Aku lulus mata kuliah itu dengan nilai straight A!
Itu untuk pertama kalinya aku sadar arti sebuah S.E.M.A.N.G.A.T. Itu pula untuk pertama kalinya aku benar-benar jatuh cinta pada pemikir-pemikir besar dunia yang beratus-ratus tahun setelah ketiadaan mereka hasil buah pikirannya tetap eksis dan membuat seorang anak umur 19 tahun ini terbuai di dalamnya.
"You can accomplish anything if you put your mind to it"
(Mayestica d.J dalam sebuah interview malangnya di sebuah gedung kembar di Jakarta)
"Tak pernah ada kejutan dalam logika"
(Ludwig Wittgenstein dalam bukunya Tractatus Logico-Philosophicus)